Distorsi Melankoli


Saya kira malam tentu punya rahasia. Jika tidak, tentu tak akan ada peristiwa-peristiwa agung berlangsung di malam hari. Suhuf yang diturunkan, wahyu yang disampaikan, dan hijab-hijab yang disingkapkan adalah berlangsung di masa-masa malam hari.

Sebab barangkali malam menawarkan sebuah rehat. Sebuah jeda.Jeda itu senantiasa memberikan makna. Spasi itu senantiasa memberikan arti. Dan semalam, saya coba mereguk segenap makna dibalik jeda dan spasi itu dengan diam.

Hanya diam. Tidak melakukan apa-apa. Hanya meracau bersama malam. Memilih murung. Memilih menjadi sentimentil. Insomnia yang begitu lirih, sekaligus melankolis.
Tidak produktif?? Ahh..biarlah..Itu kan kalau dilihat dari logika pasar. Logika yang hanya menasbihkan untung rugi. Logika yang hanya mengerkah kita dalam-dalam dengan begitu pragmatis. Logika yang petentang-petenteng.

Ayolah, hidup ini hanya sekedar bermain-main kan? Permainan yang beralih-alih. Dan permainan tidak hanya berbicara soal untung rugi. Ada makna didalamnya. Dan diam sejenak memberikan ruang yang luas ihwal meresapi itu semua.
Melankoli itu megajak saya bertelusur pada kenyataan-kenyataan absurd yang selama ini tak saya sentuh. Bahkan melankolia semalam menyeret saya pada pola-pola skeptis. Mempertanyakan kenapa permainan ini tergelar begitu ilusif, dan kenapa pula saya terlibat di dalamnya menjadikan saya semalam misuh-misuh sendirian. Entah, barangkali Tuhan justru tertawa melihat saya demikian.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kerap saya lalaikan karena selama ini saya menolak diam, menyentil kesadaran saya. Sambil melihat ke cermin, melankolia itu sungguh ekstasif.
Siapa saya? Kenapa saya hidup? Terus kalau hidup mau apa? Apa benar hidup cuma begini-begini saja? Lahir-tumbuh-belajar-bekerja-menikah-berketurunan-mati-lalu apa?

Pertanyaan-pertanyaan yang hanya menyeret saya pada realitas yang mengambang. Alih-alih menemui jawaban, saya menjadi skeptis. Ah, Tuhan ini Maha Ada-Ada saja? Bukankah semua ini sudah Dia reka sedemikian hingga? Lalu mengapa hidup itu ada bila semua sudah teratur dari pangkal sampai ujungnya?Bahkan racauan yang ektase bersama melankolia semalam jelas sudah Ia rencanakan pula?

Malam kian gigih mengirimkan sunyi yang mengepung saya bersama pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab pasti. Semuanya mengambang. Semuanya absurd.
Dan absurditas tadi menghentikan pada sebuah kutub yang hanya mengharuskan saya menjalani dengan kesadaran. Bahwa di balik segala realitas yang ilusif pada alur bernama hidup, jawabannya berujung pada kepasrahan menjalani. Mengembalikan semuanya pada sebuah Maha Energi. Pada Sang Maha Kosmos. Permainan ini berakhir di situ.llusi dan kekonyolan ini berpangkal muara di situ.

Ternyata, absurditas dan skeptisme yang saya cumbui semalam justru membuat iman yang “terperbaharui”. Sebagaimana yang dilansir filsuf Immanuel Kant : “..Faith starts when reasons stops…” Saat mencoba menelusuri dan tidak menemukan apa-apa kecuali absurditas. Kecuali kekosongan yang ada.

Ingin rasanya saya memelihara momentum semalam. Momentum murung yang memberikan energi. Momentum yang depresif. Momentum padu pilin antara optimisme hidup dan ketidakberdayaan. Momentum melankoli yang mendistorsi kesadaran saya. Sebelum komedi dan permainan ini saya perankan lagi. Sebelum langkah ini terayun kembali.

Diterbitkan di:  on 17 November 2009 at 07:11 Tinggalkan sebuah Komentar

Tafakur Kematian

restart-wallpaper-1280-1024

..Terasa pendeknya hidup memandang sejarah
Tapi terasa panjangnya karena derita..
Maut; tempat pemberhentian terakhir
Nikmat datangnya dan selalu diberi salam..”
( Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran : 5 Januari 1962 )

Konon, salah satu yang membuat kita tertarik pada misteri adalah karena sifatnya yang ( seolah-olah) tidak boleh diungkap dan dipecahkan kebenarannya. Bila misteri diungkap dan dipecahkan, diumbar fakta yang tersembunyi di dalamnya,maka semua dapat kita analogikan seperti orang yang membeli buku teka-teki silang yang sudah terisi. Tidak ada yang menggairahkan. Semuanya tawar dan hambar.
Begitupun dengan kehidupan berikut dengan pasangannya: kematian. Orang-orang sedari ratusan tahun yang lampau sudah gigih berdebat ihwal asal muasal kehidupan. Berdebat pula soal apa yang akan mengakhiri seluruh kehidupan ini. Mulai dari Nostradamus hingga Joyoboyo, dari armagedon hingga badai solar.
Tapi saya akan mengajak pada misteri yang lain. Misteri kematian. Misteri yang membuat kita bertingkah polah tak karuan. Ada yang begitu takut dan khawatir, ada yang masa bodoh, dan ada pula yang sering lupa kalau kita akan menghadapi misteri tadi nantinya, saya contohnya.
Berbagai pendapat saling menyilang tentang apa yang ada di balik tirai misteri kematian. Sebagian besar yakin dan percaya bahwa ada kehidupan lain yang kekal nan badi setelah di balik tirai bernama maut. Sebagian yang lain mengimani bahwa yang ada hanyalah rotasi entah sampai kapan. Hidup,mati ,lalu hidup lagi untuk menebus kesalahan yang lalu, lalu mati lagi, lalu hidup lagi,lalu mati lagi. Sebagian kecil lainnya justru menanam keyakinan, bahwa bila kita belum puas ( baca; penasaran) kita bisa menolak masuk ke dalam kehidupan di balik maut.
Apapun itu, yang jelas semenjak saya tahu bahwa semua orang pasti mati, saya kerap bertanya-tanya dengan gelisah. Mulai dari pertanyaan kenapa saya hidup, kenapa saya dilahirkan, kenapa saya nanti mati, apa tujuan di balik itu semua, apa yang harus saya lakukan, kenapa saya diatur oleh takdir, dan kenapa-kenapa yang lainnya. Saya dulu sering merasa, bahwa Tuhan itu aneh-aneh saja.
Semisal, kenapa saya hidup lalu mati dengan batas yang sudah ditetapkan?Toh,dilahirkan ke dunia pun saya tidak meminta kan??Jadi saat ada ungkapan bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, saya saat itu setuju saja.
Hingga akhirnya saya mencoba memahami bahwa apa yang saya gelisahkan tadi seakan berputar-putar saja. Tidak menemukan jawaban yang saya rasa tepat. Upaya memahami tadi pada akhirnya mengantarkan saya pada titik untuk menyadari.
Menyadari bahwa yang satu-satunya bisa saya lakukan adalah menjalani hidup secara sadar.Berdialog dengan diri bahwa “.. saya memang sedang hidup,jalani saja dengan khusyuk”. Sebab walaupun saya bisa menemkan jawaban dari kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan tadi, toh saya tidak bisa merubah apapun. Saya tidak bisa menolak ketentuan bernama takdir bahwa saya hidup. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menjalani. Lain tidak.
Kalaupun kita sudah tahu bahwa semua sudah tergaris, terstur,dan kita merasa seprti merasa “dipermainkan”,lalu kita mau apa?Jika kita mau berontak, apa yang kita bisa?
Sepintas ini terlihat seperti terpaksa, padahal sebenarnya tidak. Dan kesadaran untuk menjalani hidup tadi mengantarkan saya untuk mengakui dua hal.
Pertama, bahwa ada kekuatan Maha Gigantik dan Mega Dimensi yang memberikan keteraturan yang dasyat. Dengan melihat dari sudut pandang bahwa Dia Maha Perkasa sedang kita luar biasa lemah, maka kita memang harus tunduk dan menyembahNya.
Dan kedua, saya yakin bahwa untuk menjalani misteri hidup dan mati, Dia telah mengatur segala regulasinya. Termasuk sebuah piranti bernama nurani yang Ia sematkan pada relung kalbu manusia. Regulasi tadi menjelma menjadi sebuah tatanan yang begitu sinkron dengan nilai luhur yang sesuai dengan pertimbangan piranti bernama nurani tadi. Tatanan tadi saya menyebutnya agama.
Misteri bernama maut akan datang dengan caranya sendiri. Kita tidak diminta memecahkannya. Tugas kita hanyalah menjalani secara sadar tahapan sebelum misteri tadi menyapa kita tanpa kita tahu.
Mati-matian kita menolak menjalani ini semua, danmati-matian anda mencoba menguak misteri kematian,tidak akan bisa. Sebab mati-matian tidak akan menemukan jawaban, kecuali kalo anda mati sungguhan..hehehe..
Dan misteri kematian biarlah tetap terkunci. Sebab itu yang membuat segalanya menjadi berarti. Setidaknya senantiasa membuat kita merasa eling. Pilihan kita pun cuma kita menjalani hidup secara sadar sesuai regulasi yang Dia tetapkan.

Seperti mudah diucapkan memang, tapi setidaknya kita seudah mulai menanam kesadaran ini. Toh,bila kita melihat secara pragmatis, kita tetap tidak merasa rugi. Sebab andaikata saat kita mati,lalu misteri maut yang sebenarnya terungkap dengan kenyataan bahwa kita kecele,tak ada kehidupan setelah mati, tak ada kamar abadi bernama surga atau neraka, toh kita tetap bahagia sebab kita sudah berupaya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Dan andaikata fakta yang tersingkap adalah sebaliknya, ada pertanggungjawaban dalam kehidupan abadi usai tirai maut kita singkap,kita mudah-mudahan tidak merugi. Sebab kita telah menyiapkan diri dengan menjalani regulasi yang Dia tetapkan. Amiin.

Diterbitkan di:  on 24 Oktober 2009 at 05:51 Tinggalkan sebuah Komentar

Blueprint of Happiness

brain
Pencarian tujuan akhir dari perjalanan eksistensi manusia ternyata sudah berlangsung sejak sekian abad berselang. Di belahan bumi yang penuh kemolekan, Yunani, ternyata sekian abad yang lalu sudah dipenuhi oleh anak-anak muda yang gigih berjuang mendedah makna hidup melalui pergulatan yang melelahkan dengan esensi yang mereka namakan kebijkasanaan.

Aristoteles, satu dari sekian anak muda itu bersama beberapa rekanannya menarik sebuah kesimpulan yang bulat ihwal apa yang dicari manusia sepanjang hayatnya. Dan menurutnya, perjalanan manusia tadi apapun bentuknya adalah bermuara pada pencarian kebahagiaan. Ia menyebut kesimpulan tadi dengan istilah Eudamonia.

Sekian putaran bumi berlanjut kemudian, ternyata pencarian itu bermetastase dengan ragamnya masing-masing. Pencarian tadi berubah wujud menjadi tindakan-tindakan yang mengatasnamakan muara akhir perjalanan manusia tadi : kebahagiaan. Dan muara tadi kebanyakan hanya diamini sebagai pemenuhan kebutuhan jasadi. Cermati saja, tanyakan definisi sukses ( yang similar dengan kebahagiaan) pada beberapa orang.

Karena semakin subjektif seiring dengan semakin kompleksnya perkembangan manusia, kebahagiaan semakin sulit dipahami. Atas nama kebahagiaan beberapa golongan, perang digelar secara sembunyi-sembunyi maupun diam-diam untuk pengakuan kekuasaan. Atas nama kebahagiaan, orang mengeruk keuntungan dengan mengangkangi kebahagiaan milik yang lain. Atas nama kebahagiaan, orang memupuk pola konsumsi yang begitu lebat,mengerkah segala apa yang ia inginkan tanpa panjang pertimbangan.

Profesor HAMKA, cendekiawan lmuslim legendaris kita itu pernah berujar bahwa kebahagiaan hakiki tidak hanya yang bersifat “kelebihan”, tapi juga bersifat “kekurangan”.Praktisnya, menurut filsuf Rudolf Otto, kebahagiaan tidak hanya soal karunia yang kita dapatkan tapi juga soal menjalankan kewajiban yang harus kita kerjakan.

Sudut pandang yang lain ini mengantarkan kita pada pentingnya kesadaran terhadap peran masing-masing. Bahwa bila kita khusyuk menjalankan peran masing-masing sepenuh hati, kebahagiaan akan menjadi proses itu sendiri.
Secara lebih spesifik, seorang ilmuwan (duh, saya lupa namanya) merumuskan bahwa kebahagiaan yang dicari oleh manusia itu tersari menjadi enam hal. Enam hal tadi meliputi : Kearifan dan pengetahuan, kebenaran, keadilan, kesederhanaan, spirituil, dan transendensi.
Menurutnya, keenam hal mulia tadi inilah yang termaktub dalam setiap ajaran ihwal kebajikan yang tersebar di penjuru bumi dari masa ke masa. Mulai dari Al-Qur’an, injil, konfusiousme, Budhisme, Taoisme, Taurat, dan lain-lain.

Memang, manusia sedari ia dilahirkan dengan software mulia bernama nurani untuk melaksanakan kebajikan. Saya rasa, deras nian anjuran tersebut dalam kitab yang saya yakini benar kemuliaannya, Alqur’an. Dan saya tidak akan mengurai terlalu jauh ihwal itu. mengingat kapasitas saya sendiri.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah, lalu kenapa ada orang jahat??Orang yang kerap mengingkari software-nya sendiri?
Saya tidak akan menjawab dengan membahas soal ini dengan sudut pandang yang normatif. Terlebih, sifat relatif yang lekat dengan hal tersebut membuat saya tidak mengurainya saat ini. Lain kali saja.
Tanpa bermaksud menggurui siapapun, saya akan membahas soal tersebut dengan sudut pandang disiplin ilmu yang begitu menarik dan menjadikan saya begitu bergairah. Sudut pandang tersebut adalah neurosains.Saya lebih suka menyebutnya otakologi ( maaf kalo mungkin terdengar geli di telinga anda)

Secara singkat dan sederhana, sebagaimana saya bilang tadi, manusia diciptakan dengan software kebajikan. Dan hardware dari itu semua adalah otak.Proses asosiasi, pemahaman informasi, serta pengambilan keputusan terjadi pada bagian otak di area korteks atau kulit otak. Lebih tepatnya kulit otak bagian depan, atau disebut juga lobus frontalis.

Dan cara kerja otak adalah berdasarkan mekanisme plastisitas. Ia akan terus bersifat melar dan plastis bergantung pada informasi yang ia terima. Informasi yang ia terima berulang-ulang akan direkam bagian otak bernama sistem limbik sebagai informasi yang “benar”, kendati informasi tadi sebenarnya “salah”, hantaran itu kemudian dilanjutkan ke lobus frontalis yang berperan sebagai eksekutor berdasarkan hantaran yang telah diterima dari sistem limbik.
Itulah mengapa, kendati pada dasarnya kita sudah mempunyai kebajikan yang tertanam di otak kita, akan menjadi salah eksekusi oleh lobus frontalis menjadi keburukan, sebab hantaran yang dihantarkan berulang-ulang pada sirkuit otak yang melar adalah demikian.

Tapi Tuhan Memang Maha Kreatif, memori soal kebajikan tadi tidak benar-benar terhapus. Sebab karena sifat otak yang plastis tadi, memori tadi dapat terpanggil kembali. Jadi buat saya, tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat. Sistem informasi yang ia terima (dalam bentuk apapun) yang menjadikannya demikian.Terlepas dari segenap relatifitas yang menyelimuti.

Saya kira, tujuan akhir dari perjalanan akhir kita semua sudah difasilitasi olehNya melalui piranti luar biasa bernama otak. Ia akan membantu kita semua menuju muara akhir perjalanan hidup manusia di dunia: kebahagiaan.Tidak ada kata lain yang layak menggantikan syukur atas itu semua, selain dengan menjaga dan mengoptimalisasikannya, sesuai dengan kebajikan sudah ditanamNya..

Atas nama kebahagiaan, halaman ini tersaji buat anda.

Salam.

Diterbitkan di:  on 21 Oktober 2009 at 05:58 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Tabik

Selamat datang..

Mungkin saya terlambat..Baru bergabung di ranah penuh kesadaran berbagi ini.. Tapi bagi saya, lebih baik terlambat darpada tidak berangkat sama sekali. Toh, saya seorang pemimpi. Dan mimpi senantiasa bisa meningkatkan deru akselerasi. Jadi semoga saya bisa menebus keterlambatan saya dengan upaya saling memberi arti dengan anda sekalian.

Sekedar ingin berbagi. Itu saja yang melandasi ihwal mengapa upaya blogging ini saya empu. Berbagi barangkali saja apa-apa yang saya lakoni, diolah dalam pagar aksara,lalu ditebar di kutub-kutub ini bisa menjadi sesuatu yang berarti bagiĀ  siapapun yang secara sengaja atau pun tidak, singgah di tempat ini.

Syukur-syukur bila upaya berbagi tadi bisa berubah menjadi pola komunikasi yang timbal-balik, sehingga bisa mengingatkan saya alih-alih ada langkah-langkah yang kurang pantas saya ayun pada gelar hidup ini.

Semoga saja demikian.

Setangkup jari penuh hormat.

Salam.

Diterbitkan di:  on at 05:27 Tinggalkan sebuah Komentar

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Diterbitkan di:  on at 05:08 Komentar (1)